Pages Navigation Menu

Kecenderungan Menjadi Pribadi yang Baik

Kecenderungan Menjadi Pribadi yang Baik

“Masing-masing dari kita dilahirkan dengan satu kecenderungan yaitu kecenderungan untuk menjadi pribadi yang baik”

Sahabat-sahabat yang hebat dan penuh dengan keajaiban, kalimat sederhana yang terungkap diawal artikel ini ternyata menarik untuk kita kaji. Apa sebab? Jawabannya sederhana karena kita adalah MANUSIA. Yups, betul sekali. Manusia yang dikarunia oleh Tuhan dengan segala potensi dan kecemerlangan, manusia yang dibekali alat dan sensor super canggih yang dititipkan oleh kita yang bisa diberdayakan seoptimal mungkin.

Percayalah, sejak kita lahir. Sejatinya kita telah dititipkan potensi olehNya. Dan potensi itu sejak dimasa kandungan sudah digariskan, cuma memang tidak diberikan label atau merek dagang di jidat atau pusar kita bahwa kita memiliki potensi ini dan itu. Betulkan? Kalau tidak percaya coba cek jidat atau pusar kita, apakah ada label dan merek dagangnya?

Satu paket dengan potensi, ternyata yang terlupa oleh kita. Sesungguhnya kita pun dibekali sebuah kecenderungan untuk berbuat yang baik dan indah oleh Tuhan. Bukankah Tuhan pusat dari segala kebaikan dan keindahan?

Seorang perakit atau pembuat komputer, tentunya ingin sekali hasil karyanya menjadi yang terbaik dan dapat dimanfaatkan orang lain. Seorang pencipta seni, juga menginginkan ciptaannya bernilai keindahan sehingga ada nilai kebaikan disana. Alamiahnya, seseorang yang menciptakan atau membuat sesuatu ingin sekali hasil ciptaan atau buatannya memiliki kebaikan dan keindahan, bukan sebaliknya.

Tuhan pun juga begitu. Dia menciptakan segala sesuatunya dengan bentuk sebaik-baiknya. Dihembuskan lah kecenderungan-kecenderungan mengarah kepada kebaikan. Lantas, mungkin terbesit pertanyaan dalam benak kita, mengapa masih ada saja manusia yang menimbulkan kerusakan di muka bumi ini? Dengan cara merugikan diri sendiri dan orang lain. Mengapa ada beberapa orang yang mengarah kepada hal-hal yang tidak baik? Mengapa ada orang-orang yang melakukan perselingkuhan, perzinahan, korupsi dan sebagainya?

Ada yang bisa menjawabnya?

Mari kita simak kembali ungkapan diawal artikel ini. “Masing-masing dari kita dilahirkan dengan satu kecenderungan yaitu kecenderungan untuk menjadi pribadi yang baik”.

Bicara tentang kebaikan tentunya tidak terlepas dari konsekuensi. Yah betul sekali. Kita pun harus paham tentang konsekuensi yang melekat didalamnya. Seringkali kita mendengar perkataan dari orang-orang bijak, ‘hidup adalah pilihan’. Pilihan pun memiliki dampak dan konsekuensinya. Begitu juga dengan aturan hidup merupakan sebuah konsekuensi. Dengan aturan yang baik itu memaksa kita untuk mengarah kepada kebaikan.

Semakin bingung? Oke… tenang saja. Bingung artinya tanda belajar.

Mari kita urai bersama-sama.

Anda tentu tahu kan hukum gravitasi? Hukum yang ditemukan oleh seorang ilmuwan, bernama Isaac Newton yang kala itu sedang bersantai dan bersandar di sebuah pohon apel. Dan pada saat itu apel tersebut jatuh mengenai kepalanya, sehingga lahirlah hukum gravitasi. Kebayang yah kalau pohon yang disandari Newton adalah pohon durian?

Ada sebuah hukum alamiah yang hidup ditengah-tengah kita dan tidak bisa diganggu gugat serta tidak bisa kita bantah, contohnya hukum gravitasi. Hukum ini mengatakan benda apapun pasti jatuh kebawah karena ditarik oleh gravitasi bumi.

Sama dengan hukum kebaikan dan keindahan. ‘Jika kita bersyukur maka nikmat kita akan dilebihkan, jika tidak maka azab ku sangat pedih’. Ayat ini juga mengidentifikasikan bahwa ada sebuah hukum tentang kebaikan yang tidak bisa diganggugugat. Tidak bisa dibantah. Syukur adalah kebaikan, maka Tuhan menggaransi jika Anda melakukan kebaikan bernama syukur maka ini konsekuensinya. Jika tidak melaksanakannya ini konsekuensinya.

Maka tidak heran, siapapun yang berbuat kerusakan dimuka bumi ini dan ini adalah ketidakbaikkan pasti hukum alamiah berjalan. Prakteknya hukum ini tidak pandang bulu. Tidak melihat dia kaya atau miskin, tidak lihat dari suku dan agama. Hukum ini menyamaratakannya.

Masih tidak percaya? Anda percaya atau tidak hukum ini tetap berjalan kok. Bahkan ketika Anda tidak menginginkannya hukum ini tetap berada ditempatnya, mengeksekusi setiap orang yang melakukan atau tidak melakukannya layaknya hukum gravitasi dan hukum-hukum lain yang berputar dan berjalan di muka bumi ini.

Jika pertanyaan Anda belum terjawab tentang mengapa ada orang yang sudah paham tentang hukum ini dan kita dilahirkan memiliki kecenderungan menjadi pribadi yang baik tapi masih saja melakukan hal-hal yang tidak baik? Cukup sederhana menjawabnya, karena memang dia memilih itu atau lingkungan yang memilihkannya.

Sahabatku yang hebat dan penuh dengan keajaiban, saya meyakini bicara pilihan dan memilih sesuatu hal itu bicara tentang kedewasaan. Coba lihat saja anak kecil yang tidak peduli dan memang belum dikaruniai Tuhan untuk sadar memilih pilihan yang baik buatnya ketika bermain dengan sebuah pisau. Dia tidak paham pisau membahayakan hidupnya.

Karena kita telah dewasa menentukan pilihan, otomatis pilihlah pilihan yang sesuai dengan fitrah kita, cenderung menjadi pribadi yang baik. Menjadi pribadi yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Menjadi pribadi yang hebat dan menghebatkan. Menjadi pribadi yang penuh dengan keajaiban dan menjadi fasilitator keajaiban untuk orang lain. Maka dengan begitu kita layak menjadi manusia seutuhnya, bukan manusia jadi-jadian dengan karakter masih seperti anak kecil.

Selamat memilih!