Pages Navigation Menu

Dahsyatnya Sebuah Kata

Dahsyatnya Sebuah Kata

Percayakah Anda tentang dahsyatnya sebuah kata? Dengan kata orang bisa mengubah dunia, dan sebaliknya dengan kata pula seseorang dapat menghancurkan dunia. Makanya hati-hati dengan kata-kata.

Teringat film zaman dahulu, yaitu “jangan panggil saya cina”, yang kalau nggak salah dibintangi artis cilik jaman dulu, yaitu Leony. Dan artikel kali ini saya tidak akan membahas tuntas film itu dari A sampai Z atau bahkan memperbincangkan artis utamanya. Tapi saya mengambil satu bagian dari judul itu, yaitu “jangan panggil saya cina”, lalu dipanggil apa dong? yah panggil dengan nama kesukaan dan nama terbaik dong. Mungkin begitu jawabannya.

Teringat juga dengan perkataan guru spiritual saya, Rasulullah mengajarkan kita untuk memanggil nama orang dengan nama kesukaan orang tersebut. Kalau nama asli orang tersebut bernama Jalaludin, jangan kita panggil seenaknya dengan nama “kontet” yang mungkin kebetulan tubuh dia pendek.

Atau sudah bagus-bagus nama dia, Effendi. Kita dengan seenaknya menyingkat dengan sebutan Pepeng. Atau ada seseorang yang namanya hadiah dari kakeknya. Dan kakeknya sangat sayang sama cucunya, hingga diberi nama Muhammad Abdul Syukur, eh… tanpa dinyanya, teman-temannya memanggil nama dia dengan sebutan Bedul.

Alhamdulillah, di pengajian yang saya dirikan bersama istri saya di rumah. Saya pun menerapkan hal yang serupa. Memanggil dengan nama terbaik. Ada seorang murid, yang https://Meet-Babes.com teman-temannya memanggil dia dengan sebutan Amoy. Karena panggilan tersebut disematkan kepada dia, mukanya mirip dengan ras China. Padahal, nama aslinya, Salwa. Dengan bertanya kepada dia terlebih dahulu, apakah suka dipanggil Amoy? Ternyata tidak. Dia lebih suka dipanggil Salwa. Kami memutuskan memanggil nama sesuai panggilan yang dia suka.

Rekan-rekan semua, percayakan kalau nama adalah doa dan kata adalah kekuatan ?

Kalau rekan-rekan mengubah nama orang dengan seenaknya, berarti rekan-rekan telah mendoakan dia untuk terus menjadi “kontet” (pendek). Atau mendoakan si Effendi agar terus kurus dan kerempeng (baca : Pepeng). Dan ternyata itu sangat powerfull untuk membentuk konsep diri baru bagi orang itu, NEGATIF.

Bahkan dengan sangat cantiknya Rasulullah memanggil nama istri kesayangannya, Siti Aisyah dengan sebutan, Ya, Humairah, yang artinya berpipi kemerah-merahan. Panggilan itu meng-identifikasikan Siti Aisyah begitu sempurna di mata Rasul.

Bayangkan saja, seorang Nabi, Pemimpin besar, Panglima perang dan suri tauladan kita semua, bahkan ada sebuah buku dari orang yang non-Islam, yang menempatkan Muhammad SAW ditempat pertama sebagai orang yang paling berpengaruh didunia. Benar-benar menghargai sebuah nama. Lantas kita ?

Sudah barang tentu kita umatnya, mengikuti junjungan kita. Karena saya meyakini orang tua memberi nama anaknya kelak, agar menjadi doa dan berperilaku sesuai namanya. Saya, Anda dan rekan-rekan yang membaca artikel ini pun telah dianugrahi nama yang sangat Ruar Biasa. Contohnya saja saya (ini bukan narsis loh…) Muvtizar Solichin yang mempunyai arti sangat dalam bagi saya, yaitu seorang Hakim yang sholeh. Hakim berarti pemegang keputusan tertinggi. Kalau di Arab, biasa disebut dengan “Mufti”. Yah tentunya saya bangga dengan nama yang orang tua berikan untuk saya.

Karena bagi saya nama Mufti atau Muvti adalah harga mati buat saya, begitu juga dengan Jalaludin, Effendi dan Muhammad Abdul Syukur. Semoga kita berempat menjadi dorongan inspirasi buat Anda semua untuk selalu memanggil nama teman kita dengan nama terbaik yang dia suka.

Saya ulangi lagi, “karena nama adalah doa, dan kata adalah kekuatan…”

Silakan Bagikan Artikel IniShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageShare on LinkedInPin on Pinterest