Pages Navigation Menu

Coaching adalah

Coaching adalah

Apa itu coaching? Atau coaching adalah apa? Mari kita simak artikel  ini!

Ketika Anda pertama kali mendengar kata coaching, mungkin yang terlintas dalam benak Anda adalah “Olahraga”. Tidak salah juga memang jika itulah yang ada dipikiran Anda untuk sementara ini. Baiklah, izinkan kami mengeksplorasi makna coaching yang sesungguhnya, walaupun begitu definisi coaching yang nanti Anda dapatkan bisa saja berbeda. Tidak masalah.

Kalau memang definisi coaching untuk sementara kita kaitkan dengan olahraga, katakanlah olahraga sepakbola. Ada seorang coach yang mantan pemain, ada juga yang bukan mantan pemain. Mari kita kerucutkan menjadi dua nama, Mourinho dan Maradona. Kedua nama ini adalah tokoh besar didalam sepakbola. Special one yang disematkan kepada Mourinho kini, sejarahnya dia bukan (pemain) hebat. Beda dengan Maradona, di era nya beliau adalah legenda hidup sepakbola. Ketika menjadi coach kemampuan melatihnya sangat jauh dengan Mourinho. Terbukti ketika Maradona melatih Argentina dan beberapa klub yang dibelanya, tidak secemerlang Mourinho karir kepelatihannya.

Mudah untuk kita simpulkan, ternyata menjadi seorang coach memerlukan keahlian tersendiri. Ilmu coaching adalah ilmu yang khusus dimana seorang pemain / bukan pemain ketika ingin berkarir menjadi seorang coach tidak menguasai ilmu coaching, ia takkan sukses.

Lalu sebenarnya apa yang dilakukan seorang coach? Apakah ia hanya sekedar mengajari? Apakah ia hanya sekedar memberikan intruksi?

Adalah Timothy Gallwey, disebut-sebut sebagai tokoh pelatih tennis yang mempopulerkan cara pandang yang baru tentang coaching. Awalnya, Gallwey melatih dengan mengajari dan memberikan intruksi. Namun, ia kemudian menyadari bahwa seorang atlet bukan tidak mampu menunjukkan performa karena tidak tahu caranya, bisa jadi karena ada sesuatu yang terjadi didalam dirinya yang menghambat. Maka beliau mengubah gaya coachingnya, tidak lagi mengajari akan tetapi menjadi “memfasilitasi”. Gallwey lebih banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian tanpa atlet sadari memicu untuk menemukan jawabannya sendiri. Singkat cerita, jadilah pendekatan ini dikemas dalam bentuk sebuah buku berjudul “The Inner Game of Tennis”.

Menariknya, ternyata pendekatan ini tidak hanya diaplikasikan dalam dunia olahraga. Ada beberapa bidang yang ia gunakan walaupun bidang tersebut bukan keahliannya. Contohnya saja musik, beliau membantu para musisi menemukan jawaban atas kondisi mereka sehingga memunculkan potensi terdalamnya.

Jadi, coaching yang kita maksud disini bukanlah cara untuk mengajari apalagi memberikan intruksi. Maka coaching bukanlah training yang umumnya berbentuk kelas, coaching bukan mentoring, bukan pula terapi atau konseling. Lalu apa itu coaching?

Definisi ini saya dapatkan dan pelajari dari sebuah komunitas terbesar di Indonesia, yaitu Indonesian NLP. Dan saya kutip hampir sebagian pernyataan artikel ini dari tokoh dan founder komunitasi ini Teddy Prasetya.

Konseling atau terapi adalah proses untuk membantu seseorang berubah dari kondisi klinis (titik minus – memiliki masalah) ke kondisi nol (tidak memiliki masalah). Lalu apa bedanya dengan coaching? Ya karena keduanya tampak seperti percakapan yang sama. Yang membedakan, dan ini sungguh jauh, adalah apa yang terjadi dalam percakapan itu. Terapi atau konseling, umumnya adalah percakapan untuk menyelesaikan sebuah permasalah psikologis yang terjadi pada klien.

Training dan mentoring, berakar pada keahlian pengajaran, adalah untuk membantu seseorang berubah dari titik normal menuju titik tertentu. Bedanya, kalau training biasanya mengajarkan materi yang sifatnya generic, mentoring mengajarkan materi yang sifatnya spesifik berasal dari pengalaman yang pernah dilakukan oleh mentor. Hanya orang yang tidak mengalami permasalah klinis yang kemudian bisa belajar dengan baik dalam training / mentoring. Sebagaimana hanya orang yang telah sembuh dari sakit yang sanggup berolahraga.

Nah, training atau mentoring, karena akarnya adalah pengajaran, maka ia memiliki batasan dalam mengembangkan potensi seseorang. Yaitu, seseorang hanya mendapatkan sebuah ilmu sebatas yang diajarkan semata. Padahal, selayaknya sebuah ilmu, ia memerlukan kontekstualisasi yang intensif sebelum menjelma menjadi performa. Ilmu perlu diolah lagi dalam praktik sebelum menelurkan hasil. Dan pada titik inilah ketika seseorang telah tahu dan paham, training dan mentoring acapkali tak lagi banyak membantu. Ilmu telah cukup, layaknya bahan-bahan mentah yang tersedia lengkap. Saatnya ia dimasak dalam kenyataan.

Tentunya, pada titik inilah kita memerlukan sebuah pendekatan intervensi yang berbeda. Jika dirasa-rasa, ketiga pendekatan diatas kurang mengambil perannya sebagai pengembangan potensi seseorang yang sesungguhnya orang tersebut sudah tahu dan cukup mampu apa yang harus dilakukan akan tetapi tidak bergerak untuk mencapainya. Kalau begitu Coaching adalah jawabannya. Mengapa demikian?

Peran seorang coach adalah memfasilitasi dengan cara bertanya dan mendengar. Dan posisi dengan klien sejajar, sangat berbeda jika dibandingkan dengan seorang terapis / trainer / mentor yang dianggap lebih tahu daripada klien.

Dan coaching paling bermanfaat ketika memang seseorang telah memiliki pemahaman yang memadai tentang apa yang perlu dilakukan. Memadai tidak harus ahli. Ketika informasi dasar sudah didapatkannya, akankah lebih berguna tentunya. Jika klien belum bisa melengkapi informasi baru yang memang diperlukan, peran training atau mentoring adalah jawabannya.

Pertanyaan dan ini merupakan kesimpulan dari artikel ini adalah kapan saya siap menjalani sesi Coaching? Dibawah ini sepenuhnya kami sadur dari sebuah artikel oleh Mas Teddy On Becoming Coach. Berikut penjelasannya.

  1. Sudah bulat untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Tidak berkutat lagi dengan fokus pada apa yang salah.
  2. Sudah memahami beberapa pemahaman dasar akan hal yang ingin dicapai. Tidak mesti ahli, tapi dasarnya tahu. Misalkan, kalau Anda orang akutansi, lalu pindah ke dunia penjualan, maka perlu tahu dulu ilmu dan keterampilan bagaimana caranya menjual. Jika Anda sama sekali belum tahu, maka Anda belum bisa efektif menjalani sales coaching.
  3. Bersedia untuk berpikir, tidak berharap terlalu banyak dari jawaban coach. Karena tugas coach adalah memfasilitasi coachee (klien) untuk menemukan jawabannya sendiri. Keahlian coach adalah bertanya. Bukan berarti Anda tidak boleh bertanya pada coach yang memang juga memilki keahlian, namun dalam proses coaching berharaplah lebih banyak untuk mengeksplorasi diri sendiri.
  4. Bersedia untuk segera melakukan tindakan setelah proses coaching. Ya coaching seberapapun menginspirasinya tidak berarti jika rencana tindakan sudah disepakati tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh. Sebab hasil nya didapatkan dari tindakan, bukan percakapan. Seorang coach memang akan memancing motivasi kita untuk bertindak dan turut memonitornya. Namun keputusan untuk benar-benar menjalankan dengan kesungguhan tetap ada pada diri kita sendiri.

Bagaimana jika Anda belum siap untuk menjalankan hal-hal diatas? Ya sederhananya, persiapkan diri. Bayarlah kesuksesan kita dengan kesungguhan. Bersedialah untuk membuka diri, mengubah ulang scenario hidup yang telah lama kita pegang dengan nyaman, untuk diperluas. Kalau bersama coach gratisan kita tidak terlalu termotivasi, carilah coach yang berbayar. Cara ini kerapkan membantu, meskipun tidak selalu. Sekali lagi, keputusan untuk mengubah visi menjadi kenyataan tetap ada pada diri kita, bukan coach.