Pages Navigation Menu

Mie Instan Saja Butuh Proses

Mie Instan Saja Butuh Proses

Ada yang pernah mencoba Mie Instan? Sepertinya bukan orang Indonesia kali yah, kalau belum sama sekali mencicipi mie yang terkenal sudah lama ini. Dan mungkin diantara kita ada yang pro dan kontra tentang kegunaan bagi tubuh kita, tapi tenang saja tulisan ini tidak berbicara tentang mie. Apalagi membahas kandungan mie instan ini yang acapkali banyak menuai ketidaksetujuan. Kecuali ada pihak dari produk yang menawarkan kerjasamanya dengan saya, itu beda lagi urusannya.  Hehehe…

Sempat teringat curahan hati teman saya yang begitu khidmat, layaknya kita mengheningkan cipta ketika upacara bendera. Yah seperti itulah sensasinya. Dia menyerocos saja bak kereta api yang kejer setoran, harus tiba sesuai jadwal. Tapi benar, kala itu kita berdua sangat menikmati obrolan tersebut. Mulai dari bisnis, politik sampai urusan keluarga, padahal kita belum berkeluarga pada saat itu.

Ada beberapa kalimat, yang menghentak yang membuat semua manfaat obrolan kala itu sepersekian detik terhenti, karena biasanya saya sebisa mungkin ketika mengobrol atau berbincang-bincang kepada siapapun menghindari gosip dan membicarakan keburukan orang lain. Tidak ada manfaatnya sama sekali. Hingga dengan tersigap pun pada saat itu, di pikiran saya, saya beranikan diri untuk menuangkan dalam bentuk tulisan. Lagi-lagi untuk kebermanfaatan.

Wah pada penasarankan apa kalimatnya ya? hmm… kurang lebih seperti ini. “Ti (Dia menyingkat nama ku dari Muvti menjadi ‘Ti’), gila yah temen-temen kita. Udah pada kerja, udah pada sukses dan udah pada mapan, ada yang udah punya bisnis sendiri punya banyak karyawan, mobil pada keren-keren lagi. Rumah udah pada punya.”

Maklumlah cerita ini diangkat memang ketika kami berdua sedang berjuang dengan darah dan keringat, memperjuangkan segala impian-impian kami dan mempertahankan harga diri kami. Kurang lebih, sekitar 6 – 7 tahun yang lalu. Dan memang pada saat itu kami habis menghadiri reunian kampus dan saya pun mengakui fakta yang dibicarakan oleh sahabat saya.

Dia pun melanjutkan kalimatnya, “Nah kita ti! Masih gini-gini aja. Huff…”

Nah, jujur saja, helaan nafas sahabat ku ini membuat tak nyaman. Tentunya disamping kalimat-kalimat dia juga yah. Sensasi kala itu, benar-benar terekam baik dikepala ku, hingga menambah daftar alasan untuk memantabkan terciptanya tulisan ini.

Ada apa dengan kalimat dan helaan nafas sahabat saya? Bukannya itu hal biasa?

Ya memang hal biasa kalau keseharian kita selalu diiringi dengan keluhan dan penyesalan. Memang hal biasa jika pikiran kita dirasuki hal-hal yang membuat tidak bersyukur, memang hal biasa kalau memang hidup kita terus dihabiskan dengan rasa ketidak adilan dan ketidak bahagiaan. Ya itu memang hal biasa.

Alhamdulillah, pada saat itu. Kalimat dan helaan nafas beliau bukan hal yang biasa buat saya. Ada cambukkan kuat dalam diri saya ketika mendengar ucapan sahabat saya. Dan bahkan sempat saya pengen berteriak ditelinganya, “Kita? Elo kali..!” hehehe… tapi kuurungkan niat, karena saya pun ingin terus mendengarkan riakan hatinya.

“Iya Ti, masa kita gini-gini aja sih?” kalimat repetisi penutup yang membuat buluk kudukku berdiri.

Wahai rekan-rekan darimanapun juga, ingat tema judul tulisan ini, tidak ada yang instan. Kesuksesan dan Kekayaan yang penuh berkah pun tidak ada yang instan. Bahkan kalau Anda menjadikan Mie instan sebagai inspirasi Anda, lihat saja, mie instan saja butuh waktu untuk memasaknya, yah minimal lima menit.

Memang beberapa dekade akhir-akhir ini, kita dicekokki sebuah generasi instan. Yaitu, generasi MTv. Sekarang masa itu sudah berlalu, walaupun masih ada sisa-sisa taringnya. Sekarang pola pikir instan kita, sudah dirasuki hal-hal yang berbau serba cepat. Seperti pemilihan-pemilihan ajang berbakat di semua stasiun televisi. Seakan-akan mereka sudah kompakkan untuk menghancurkan generasi demi generasi yang seharusnya menjadi tonggak perubahan bangsa ini. Dan sekelumit acara-acara hiburan yang semakin panas nih kepala. Seolah-olah kita di ajarkan, mau menjadi sukses dan terkenal, gampang kok, tinggal aja masuk ke ajang-ajang ini, dan dinamit pun meledak. Anda menjadi pujaan sejagat.

Ternyata survey membuktikan, artis-artis atau trend setter di dunia hiburan yang di besarkan dari ajang-ajang instan ini, umurnya (masa emasnya) pun tak akan lama. Iya, memang sih, dia melesat bak roket yang terbang ke bulan. Tapi tunggu beberapa tahun lagi, namanya pun sudah asing dimata masyarakat. Betul kan?

Kalau mau bukti, pada tahu Tukul Arwana ? Apakah iya dibesarkan dari ajang-ajang yang serba instan itu, atau Iwan Fals, musisi legendaris dari Indonesia? Yah mereka dibesarkan dari PROSES. Proses jatuh bangun mereka membangun karir.

Nah silahkan mengaca ke diri kita sendiri. Apakah ada sepintas bahkan berpintas-pintas dalam pikiran kita : “Kok saya belum sukses-sukses yah kaya teman saya, kok saya masih kaya gini-gini aja? Dan nada-nada sumbang yang memekikkan telinga. Hmm… Anda pun sekarang sudah tahu jawabannya bukan? Yaitu PROSES.

Berproseslah dengan sabar dan nikmati setiap tikungan hasil yang kita dapatkan. Syukuri apa yang sudah kita punya sekarang, karena sejatinya ketika kita bersyukur, Tuhan akan melebihi nikmatNya. Dan kalau kita tidak pandai bersyukur. Percayalah, azab Tuhan sangat pedih.

Yuk, mulai hari ini dan seterusnya, lumeri keluhan kita dengan syukur kita. Keluhan-keluhan yang membuat kita jadi tersungkur dan melupakan nikmat Tuhan, plisss jangan diumbar-umbar lagi di media sosial atau dimanapun. Terus syukuri apa yang ada, dan berbuat yang terbaik untuk masa depan kita.  Insya Allah, itu pasti powerfull dibandingkan kita hanya mengeluh dan mengeluh saja.