Pages Navigation Menu

Disiplin Diri adalah Kunci Sukses

Disiplin Diri adalah Kunci Sukses

Tak bisa dipungkiri bagaimana negara Jepang bisa semaju dan sepesat ini. Padahal negara ini dulunya terbilang sangat tertinggal, apalagi ditambah beban yang teramat berat setelah dijatuhi bom atom nuklir di dua kota utama, Nagasaki dan Hiroshima. Apa rahasianya?

Dalam beberapa dekade setelah peristiwa yang paling menggerikan sepanjang sejarah yang dialami bangsa Jepang ini, pertumbuhan dan perkembangan yang dirasakan rakyatnya meningkat pesat. Apa yang menjadi latar belakang atau prioritas utama mereka untuk dibenahi? Ya salah dua nya adalah pendidikan dan kedisiplinan. Sampai sekarang dua hal ini sangat mendarah daging buat bangsa yang terkenal dengan julukan negeri matahari ini. Tidak tanggung-tanggung mereka pun sangat malu dan bahkan sampai bunuh diri jika tidak mendapatkannya. Saking luar biasanya prioritas yang dua ini.

Yah, disiplin. Disiplin diri. Kunci utama untuk merubah sebuah bangsa. Bahkan diperusahaan-perusahaan kelas dunia, tentang kedisiplinan merupakan hal yang sangat pokok yang harus diterapkan, bahkan jadi sebuah core value tersendiri.

Lalu pertanyaannya apakah kita sudah menerapkan kedisiplinan dalam hidup kita? Apakah kita sudah berkomitmen untuk menjadi sosok orang yang menghargai waktu? Sembari Anda menjawab dihati Anda masing-masing mari kita simak cerita berikut.

Suatu hari ada seorang kakek yang hidup dengan cucu laki-laki tercintanya. Mereka berdua tinggal disebuah desa yang sangat asri dan menyejukkan. Suatu hari, di desanya diadakan pertandingan tinju antar daerah. Bagi yang berhasil memenangkan pertandingan ini mendapatkan hadiah yang lumayan besar. Sang kakek dan cucunya pun bersama-sama dengan masyarakat didesa itu menonton pertandingan tersebut sampai final.

Tanpa disadari, pertandingan tinju tersebut menjadi inspirasi buat si cucu. Sehingga terbesitlah keinginan untuk menjadi seorang petinju kelas dunia. Pada saat sang kakek dan cucunya makan bersama tersampaikanlah keingingan sang cucu kepada kakeknya. “Kakek, saya mau jadi petinju kelas dunia.”

Mendengar keinginan sang cucu, sang kakek tersentak dan kaget. Tak mengira cucunya ingin menjadi seorang petinju. “Benarkah kamu ingin menjadi seorang petinju cucuku?” tanya kakek untuk melepaskan keraguannya.

“Benar kakek, saya ingin menjadi petinju kelas dunia” jawab cucunya sangat yakin dan percaya diri.

“Baiklah jika kamu sudah memutuskan untuk menjadi petinju kelas dunia, tapi ada hal-hal yang harus kamu lakukan!” Tantang Kakek kepada cucunya.

“Apa itu kakek? Saya siap melakukan hal-hal yang kakek perintahkan kepada saya. Asalkan saya bisa menjadi petinju kelas dunia.”

“Mulai besok kamu harus bangun jam 5 pagi, kelilingi kebun kita dengan berlari sebanyak 3 putaran sambil membawa sabit untuk memastikan tanaman-tanaman dikebun kita baik-baik saja, jika ada tanaman penganggu, lekas kamu singkirkan dengan menggunakan sabit itu. Setelah selesai, kamu langsung bawa kampak untuk menebang pohon yang ada dihutan, dan hasilnya kayu-kayu tersebut kamu bawa ke rumah. Ketika sampai rumah, kayu-kayu tersebut kamu belah menjadi dua sama rata dan dikumpulkan jadi satu didapur. Jika kamu melewatkan satu hari saja, kakek akan berikan hukuman, yaitu kamu lakukan besok harinya 3 kali lipat dari kewajiban kamu setiap hari. Bagaimana? Setuju kah cucuku?”

Karena sang cucu keinginannya sangat kuat. Dia pun menyanggupi semua hal yang harus dilakukan mulai besok. Tapi ada sedikit kejanggalan dihati sang cucu, mengapa dia harus mengerjakan itu semua yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan menjadi seorang petinju kelas dunia.

Besok hari tanpa dikomando, sang cucu bangun pagi hari tepat jam 5. Padahal sebelumnya, dia tidak pernah bangun sepagi itu. Dia lakukan semua perintah kakeknya dengan semangat empat lima. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Sudah 3 bulan lamanya sang cucu melakukan kebiasaan baru demi impiannya menjadi seorang petinju profesional.

Di bulan keempat, dia sudah mulai bosan. Dan kejanggalan pada saat menerima tantangan kakeknya mulai muncul. Ada pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak seketika didalam benak sang cucu, mengapa saya harus melakukan ini? Apa hubungannya dengan menjadi seorang petinju profesional? “Buktinya sudah tiga bulan berjalan dia tetap menjadi seorang anak petani dari desa. Apakah sang kakek membohongi ku? Apakah ini alasan kakek saja, untuk membantu tugas dia?” bisik hati sang cucu kepada dirinya.

Tak kuat rasanya teriakan hati ini untuk segera komplain kepada sang kakek. Dan pada hari yang ditentukan, sang cucu memberanikan diri untuk mengatakan kegalauan hatinya. Tapi tiba-tiba, di hari yang sama, sang kakek terkena serangan jantung mendadak. Terkulailah tubuh ringkih beliau. Tanpa pikir panjang, sang cucu langsung menggotong tubuh kakeknya ke rumah sakit dari rumah yang jaraknya sekitar 10 km. Karena didesa tersebut belum ada transportasi maka sang cucu membawa kakeknya dengan berjalan kaki. Tanpa terasa, akhirnya sang cucu berhasil tiba dirumah sakit dengan napas yang terengah-engah. Dokter dirumah sakit tersebut bergegas untuk menyematkannya. Tapi apa mau dikata, sang kakek tak terselamatkan.

Di detik-detik ajal mau menjemputnya, sang kakek memberikan wejangan kepada cucunya. Wejangannya sangat sederhana. “Kakek percaya kamu bisa menjadi petinju kelas dunia.”

Tumpahlah air mata sang cucu setelah mendengar kata-kata terakhir dari seseorang yang paling dia cintai dan hormati. Dia telah meninggalkan dirinya dengan membawa pesan yang menjadi cambuk dirinya untuk mewujudkan apa yang selama ini dicita-citakannya.

Kembali pulang kerumah, kebiasaan yang sempat dia ragukan itu kembali dilaksanakan. Dia semakin percaya terhadap impiannya, walaupun dia masih bingung hubungan dari kebiasaannya dengan cita-citanya selama ini.

Suatu ketika, didesa tersebut diadakanlah sayembara untuk mewakili desa menjadi atlit tinju yang nanti akan diorbitkan ke tingkat nasional. Tanpa pikir panjang sang cucu ikut sayembara tersebut, dan singkat cerita sang cucu masuk menjadi nominasi. Sempat bingung sang cucu, mengapa dia bisa masuk nominasi menjadi wakil didesanya. Padahal secara ilmu dan teknik bertinju, sama sekali dia belum menguasai. Lalu petugas sayembara tersebut menjawab kebingungan sang cucu, “kamu sangat baik secara fisik, otot lengan kamu bagus, otot kaki kamu juga sempurna, pinggang dan punggung kamu juga oke. Lengkap semua apa yang dibutuhkan bagi seorang petinju.”

Mendengar jawaban dari petugas sayembara tersebut, dia baru menyadari. Selama ini, perintah dari kakeknnya ternyata menjadi pondasi dan dasar fisik nya untuk menjadi seorang petinju.

Sahabat-sahabat ku yang penuh dengan keajaiban. Apa hikmah dari cerita diatas? Terkadang kita belum paham apa yang kita lakukan ketika kita berusaha untuk tepat waktu ke sekolah, ke kantor atau ke tempat pekerjaan kita. Mungkin tidak ada hubungannya dengan kita, atau bahkan kita menggerutu karena tidak suka diatur-atur oleh perusahaan atau tempat kerja kita. Atau bahkan kita berpikir dengan kita melakukan kebiasaan tepat waktu untuk tiba di tempat aktivitas kita, yang diuntungkan adalah perusahaan atau intansi dimana kita bekerja. Tapi percayalah, semua itu bukan untuk sekolah atau kantor kita, melainkan sebuah kebiasaan untuk menghargai waktu adalah bagian dari disiplin. Dan ketika kita lakukan kebiasaan disiplin kita walaupun pada awalnya tidak ada untungnya buat kita, suatu saat mata kita akan terbuka. Ternyata Tuhan lebih Mengetahui aturan apapun yang baik untuk kita, kembali lagi pasti ke kita.