Pages Navigation Menu

Motivasi Menjadi Motivator Ulung

Motivasi Menjadi Motivator Ulung

Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik tentang motivasi. “Seseorang akan mengeluarkan daya dan upayanya terhadap hal yang dilakukannya ketika memiliki motivasi.” Ungkapan ini jadi sebuah penegas begitu pentingnya motivasi seseorang terhadap aksi yang dilakukan. Dalam hal ini motivasi menjadi motivator ulung.

Menurut wikipedia, motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.

Nah ternyata motivasi memiliki tingkatan. Dan tingkatan yang saya buat adalah tingkatan versi saya, walalupun dibeberapa buku motivasi, tingkatan motivasi mengarah ke teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow.

Tingkatan motivasi yang paling rendah adalah karena ‘iseng’. Banyak orang-orang diluar sana ketika melakukan atau ingin mencapai sesuatu motivasinya adalah iseng. Kalau kamu perhatikan, seringkali terungkap dengan kalimat yang keluar dari bibir orang-orang dengan motivasi tingkat ini ketika ada yang menanyakan, mengapa kamu memilih profesi motivator? Jawabannya, “ya saya iseng-iseng aja, daripada nggak ada kerjaan.”

Percayalah, ketika motivasi kamu hanya sekedar iseng memilih menjadi motivator ulung misalnya, saya harus katakan, motivasi ini tidak akan bertahan lama. Kamu akan cepat goyang ketika ada profesi lain yang ternyata bisa lebih memfasilitasi tingkat keisengan kamu yang lebih tinggi. Dan kabar buruknya kamu akan terus berpindah-pindah profesi (baca : kutu loncat) bukan hanya itu saja, hasilnya pun cuma iseng-iseng saja.

Coba kamu baca profil orang-orang sukses, hampir semua mereka tidak memiliki motivasi karena iseng belaka. Karena ini adalah tingkatan motivasi paling rendah. Yups paling rendah.

Tingkatan motivasi setelah motivasi karena iseng adalah ‘populer’.

Tidak dipungkiri, profesi motivator layaknya seorang artis. Dia adalah publik figur yang diidola-idolakan banyak orang, minimal dari peserta seminar motivasinya. Efek samping kepopuleran tidak bisa dielakkan. Ini adalah paket yang harus diterima ketika memilih profesi ini. Akan tetapi, ketika motivasi dan niat kamu diawal menjadi seorang motivator adalah populer. Siap-siap saja, kamu akan banyak kecewanya. Karena apa? Karena masih ada motivator yang lebih populer lagi dari kamu.

Jika standarnya dikenal orang, dan ketika nama kita sudah mulai redup. Kita mulai gelisah karena sudah tidak ada lagi yang mengenal kita sebagai seorang motivator. Perasaan kecewa akhirnya menyelimuti kita dan endingnya silahkan kamu tebak sendiri!

Tingkatan motivasi setelahnya adalah karena ‘ingin kaya’. Ingin punya banyak duit. Lagi-lagi tidak dipungkiri, ketika brand kamu sudah semakin naik dan kamu semakin dibutuhkan jasanya untuk memotivasi orang-orang. Kamu pun akan dipanggil dimana-mana memberikan petuah-petuah inspirasi yang menggelorakan semangat peserta, bukan itu saja kamu pun dibayar atas keringat kamu sendiri perhari, bahkan bisa perjam. Asal kamu tahu saja, seorang motivator hebat di Indonesia yang telah sukses mendapatkan bayaran perjam sebesar Rp 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Waw, jumlah yang sangat fantastik bukan?

Tidak salah memang, kamu dibayar tinggi sesuai kapabilitas dan kapasitas kamu. Karena profesi ini pun bisa mendatangankan income yang cukup untuk membiayai diri sendiri dan keluarga. Cuma yang menjadi masalah adalah ketika motivasi dan niat kamu dari awal ingin menjadi kaya. Ingin mendapatkan penghasilan besar. Ketika kamu memiliki motivasi ini, lagi-lagi saya berani ungkapkan, kamu juga pasti siap-siap akan kecewa.

Saya pernah memiliki pengalaman ketika saya awal-awal menjadi seorang motivator. Suatu kali saya datang untuk memberikan motivasi kepada beberapa orang mahasiswa di sebuah kota di Indonesia. Dan tahukah kamu, saya pernah dibayar 4M dan sebuah pelakat? Luar biasa bukan?

Eits, nanti dulu, 4M itu bukan 4 Miliar, tapi kepanjangan dari ‘Makasih Mas, Maaf Merepotkan (4M). Hahahaha… jumlah yang fantastik kan? Alhamdulillah pada saat itu saya tidak kecewa karena saya paham dan mengerti, saya memiliki motivasi bukan hanya sekedar ‘ingin kaya’, saya memiliki tingkatan motivasi yang lebih tinggi lagi dibandingkan ini.

Nah ini dia, tingkatan motivasi yang paling atas. Tingkatan motivasi ini dinamakan kontribusi. Yups kontribusi. Tingkatan inilah yang akhirnya saya bisa bertahan dengan segala macam tantangan dan cobaan, lebay mode on. Bener lho, dan kabar baiknya, ketika Anda meniatkan untuk berkontribusi maka seiring berjalannya waktu, tingkat motivasi yang dibawah nya juga bisa didapatkan. Kecuali tingkatan motivasi iseng kali yah. Serius! Alhamdulillah. Sekarang pertanyaannya kembali saya ulangi, mengapa kamu memilih menjadi motivator?

Sudah tahu jawabannya kan? Saya berharap, siapapun kita yang siap berkomitmen menjadi seorang motivator yang memiliki tingkatan motivasi paling atas. Yaitu ‘kontribusi’ Karena dengan motivasi ini, kamu siap bertahan dan terus membangun karir menjadi seorang motivator yang profesional. Betul? Selamat berkontribusi untuk menjadi motivator ulung!

Silakan Bagikan Artikel IniShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageShare on LinkedInPin on Pinterest