Pages Navigation Menu

Pentingnya Membangun Komunikasi dengan Pasangan

Pentingnya Membangun Komunikasi dengan Pasangan

Hidup bagaikan pembelajaran yang terus mengajarkan kepada kita tentang artinya sebuah kehidupan. Itulah kata-kata yang saya petik dari ribuan pengalaman hidup yang saya dan suami saya dapatkan. Kami yakin dibalik semua itu terkandung hikmah yang besar didalamnya. Semoga curhat saya tentang membangun hubungan komunikasi dengan pasangan menjadi inspirasi untuk kita semua. Aammiinn….

Perjalanan kisah seorang manusia tidak lepas dari pengalaman hidupnya. Lahir dari dua buah prinsip utama kami menjalani hidup, berusaha sebaik mungkin hasilnya serahkan kepada Allah, dan semua masalah ada jalan keluarnya asalkan kita mau berkomunikasi dengan baik. Dua prinsip tersebut lah yang menjadikan kehidupan keluarga kami di titik ini begitu membahagiakan dan menyenangkan. Iya betul, begitu benar-benar menyenangkan dan membahagiakan apapun situasi dan kondisinya.

Kisah ini adalah kisah suami saya. Kesempatan menuliskan kisah hidupnya pun disini atas izinnya. Dan memang kisah pengalaman luar biasanya sering di ceritakan di kelas-kelas pelatihannya. Seringkali, ketika saya ikut menyimak beliau ketika memberikan motivasi, pelatihan, atau bimbingan saya merasa kagum dan bangga menjadi istrinya. Dan saya yakin, beliau pun merasa bangga memiliki saya sebagai istrinya, hehehehe… pede bener yah?

Suami saya adalah seorang Motivator, Trainer, dan Konsultan di bidang pengembangan diri dan komunikasi yang beliau diberi kesempatan dan amanah untuk berkeliling Indonesia dengan tujuan sharing, motivasi, serta melatih ribuan orang dan puluhan perusahaan untuk mengupgrade mereka ke titik optimal dalam potensinya. Dan syukur kepada Allah, kami dikarunia seorang anak yang cerdas, cantik nan sholehah berkat bimbingan dan teladannya kami sebagai orang tua dengan membagi peran kami secara optimal. Berharap dedikasi kami terhadap anak-anak kami kelak akan menjadikan mereka pemuda atau pemudi harapan bangsa dan Agama.

Bukan itu saja, dengan puji syukur Alhamdulillah. Lingkungan kami, yang notabene lingkungan campuran pedesaan dan perkotaan, kami diterima dengan baik. Ya diterima dengan baik sekali. Karena tidak sedikit, kawan-kawan yang kami kenal ketika bertetangga acuh tak acuh, tidak peduli dan ‘elu-elu, gue-gue’. Padahal tetangga adalah saudara yang paling dekat. Bahkan Rasulullah pun sangat mementingkan tetangganya. Mengapa kami bisa diterima dengan baik oleh lingkungan kami? Insya Allah, dengan selalu meluruskan niat, kami menggunakan pendekatan ‘kontribusi’ dalam bersosialisasi, ya kami memilih untuk berkontribusi mengadakan pengajian anak-anak dirumah kami, dengan biaya cuma-Cuma alias free. Tak terelakkan jua, orangtua di lingkungan kami pun turut senang dengan kehadiran kami.

Dan yang membuat kami merasa lebih bangga dan berharga. Di keluarga kami, kami sangat dibangga-banggakan sebagai sosok yang memang mereka harapkan. Contohnya suami saya, beliau sebagai kakak, Alhamdulillah, adik-adiknya menjadikan dia sosok teladan yang patut di contoh. Bahkan mertua saya, tidak segan-segan menceritakan ke saudara-sauradara dan tetangga-tentangganya segala hal yang positif dari suami saya.

Sempat saya pun merasa, ada sebuah beban yang kami pikul sendiri. Ketika setiap orang melihat kami sosok orang yang sukses, sosok orang yang banyak berkontribusi untuk orang lain, sosok seseorang yang mampu mengajar dan melaksanakan ilmu-ilmunya yaitu pengembangan diri, komunikasi dan parenting. Dan beban itu hampir saja membuat kami, digelari ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Atau bahasa kekiniannya, banyak omong tapi miskin tindakan. Jago ngajar bagaimana caranya berkomunikasi dan bersosialisasi atau mengajar para orang tua bagaimana menjadi orangtua yang hebat, tapi pada saat praktek nol besar.

Ya, hampir saja kami dinobatkan sebagai sosok keluarga yang seperti itu.  Alhamdulillah, dengan kekuatan Allah tentunya. kami berhasil membuktikannya. Kami sukses mengimplementasikan ilmu-ilmu yang kami pelajari dalam kehidupan nyata.

Pada momen ini, saya hendak menceritakan kembali masa-masa awal saya membangun hubungan dengan pasangan, tetangga, saudara, keluarga bahkan relasi-relasi saya, sebagai bahan inspirasi atau motivasi untuk Anda dan siapapun yang membaca tulisan saya, agar menjadikan setiap pengalaman hidupnya adalah pelajaran yang berharga yang dapat kita ambil sebagai bensin atau pemacu kita untuk memberikan yang terbaik untuk masa kini dan masa depan kita.

Semua ini kami capai, dengan satu kalimat tagline kami. Semua masalah bisa diselesaikan dengan berkomunikasi. Yah, berkomunikasilah seefektif mungkin. Berkomunikasi dengan Tuhan kita, Allah SWT, berkomunikasi dengan pasangan hidup kita, berkomunikasi dengan orangtua, mertua dan saudara-saudara terdekat, berkomunikasi dengan anak, bahkan berkomunikasi dengan diri sendiri.

Dan cerita ini memang sengaja saya tempatkan sudut pandangnya dari sisi suami saya. Saya salut dengan beliau yang begitu tegarnya menikmati hidup dengan segala masalah-masalahnya, hingga pernah kata beliau. Beliau merasakan jatuh kelubang yang paling dalam di kehidupannya.

Cerita ini diawali di tahun 2009, di titik ketika suami saya merasakan bagaimana jatuh bangunnya membangun usaha. Bahkan sempat sebelum kami menikah, dia sudah mengalami bagaimana bangkrut dan rugi ratusan juta rupiah di usianya yang masih 26 tahun. Waw… 26 tahun sudah merasakan pahitnya kehidupan. Subhanallah.

Yang lebih gila lagi, ketika posisi suami saya lagi tersungkur di jurang terdalam hidupnya. Beliau memutuskan untuk menikahi saya di usianya yang 27 tahun. Keputusan yang membuat teman-temannya mengatakan beliau adalah ‘orang gila’, bahkan kalau Anda mengenal suami saya pada saat itu pun setuju dengan komentar teman-temannya.

Bayangkan saja, dengan kondisi finansialnya yang lagi super minus, begitu juga kondisi orangtuanya yang setali tiga uang. Beliau tak segan-segan memutuskan untuk menikahi saya dan memilih saya sebagai bidadari syurganya. Dan memang pada saat itu, saya pun mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi dan situasi tentang suami saya, termasuk kebangkrutannya. Wong saya sekretarisnya diperusahaannya kok.

Dan hebatnya saya mungkin yah, saya tetap mau dengannya. Mungkin kalau wanita lain, berpendapat tidak layak menikahi seorang pemuda yang kondisi finansialnya lagi bangkrut. Namun membuktikan kehebatannya langsung datang ke Wali saya meminta restu untuk menikahi saya. Meskipun tergaget juga, tapi saya percaya, beliau dan saya bisa bangkit kembali ketika menikah. Lho, yang menyuruh menikah Allah kok. Kenapa Allah malah menghambat hambanya untuk move-on. Bukankah hambanya yang berniat menikah karena Allah akan dimampukanNya?

Alhamdulillah, janji Allah tidak pernah bohong. Ketika ada hambanya yang niat menikah karena Allah, dan menjadikan ikhiar dan doanya adalah senjatanya. Insya Allah segala urusannya pasti dicukupkan. Dan itu benar, saya memang merasakannya. Pernikahan kami, terlaksana dengan baik. Dan tadi saya sebenarnya tidak mau menceritakan kepada Anda, bahwa mas kawin yang beliau kasih ke saya hasil dari pinjaman dari seorang sahabatnya. Hahahaha… ironis.

Syukur Alhamdulillah, titik awal kebangkitan kami dimulai dari sini. Memang awal-awal kami menikah, banyak kesalahpahaman yang kami buat. Nah itu, kalau kita jarang berkomunikasi. Bukankah inti dari kesamaan pengertian, paham dan rasa solusinya adalah komunikasi?Karena 89,7% dari kesempatan yang DIBERIKAN kepada orang-orang berdasarkan KEMAMPUAN mereka dalam BERKOMUNIKASI.”

Dengan segala kerendahan hati, perlahan-lahan kami benahi komunikasi kami. Dan ketika komunikasi kita sudah mantab, Insya Allah cobaan apapun dapat kami hadapi bersama-sama. Insya Allah.

Lho, setelah menikah ada cobaan lagi kah? Ya iyalah jelas ada.

Belum selesai masalahnya yang kemarin, timbul kembali tantangan yang perlu kami hadapi. Ada seorang teman yang menawarkan investasi menarik untuk kami sama-sama bangun. Karena suami saya pada saat itu tidak memiliki uang, akhirnya resmi suami saya menawarkan menjadi marketing investasi tersebut, dan komisi yang didapatkan pada saat itu terbilang lumayan.

Dengan berbekal semangat dan relasi yang sempat beliau buat. Tanpa pikir panjang suami saya tawarkan paket investasi tersebut kepada teman-temannya. Dan saya pun mendukung keputusannya untuk menjalankannya. Ya, sebelum dia menawarkan investasinya kepada teman-temannya, beliau sudah mengkomunikasikannya kepada saya. Dan saya siap menanggung resiko apapun bersama suami saya.

Dengan usaha terbaiknya, dia berhasil menawarkan ke beberapa orang. Dan terhitung jumlah nominalnya ada puluhan juta rupiah yang dia dapatkan dari relasi-relasinya. Dan uang tersebut, ditransfer langsung ke kawan suami saya.

Selang beberapa bulan. Untung tak dapat diraih, ternyata investasi tersebut termasuk investasi bodong. Kawan suami saya dan saya pun mengenalnya, pun terkena imbasnya. Alhasil, relasi-relasi dari suami saya tersebut pun meminta haknya kepada suami saya. Ya Allah. Ujian yang luar biasa. Niat melunasi hutang sebelumnya, ini malah nambah hutang kami.

Sempat down suami saya pada saat itu. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana suami saya terpukul atas kejadian itu. Dan insting saya sebagai seorang istri menyala-nyala. Saya hibur dia, saya sediakan diri saya untuk menjadi tempat sampahnya. Tanpa dikomando, suami saya pun menceritakan uneg-uneg dan kegalauannya atas kejadian tersebut. Saya pun menyimak dan memberikan motivasi untuk dia. Karena ini adalah bentuk komunikasi yang paling ampuh terhadap pasangan. Banyak pasangan diluar sana, ketika suaminya ada masalah di pekerjaannya, jarang sekali sang istri menyediakan diri dan mendengar keluhan dan curhat suami. Alhasil, karena suami ingin bercerita dan tidak ada tempat untuk mengeluh dan mencurhatkan isi hatinya, bisa jadi sang suami mencari tempat yang lain yang lebih nyaman untuk bercerita. Itulah awal kerenggangan hubungan suami-istri.

Karena suami saya berniat bertanggung jawab dan tidak ada satu niatnya untuk melukai dan mencederai kepercayaan seseorang terhadap hubungannya. Satu persatu, suami saya komunikasikan masalah ini dengan semua klien-kliennya yang berinvestasi di investasi bodong ini. Ya, saya mendengar ceritanya setiap malam, setelah suami saya berkomunikasi satu persatu dengan para investonya. Dia mengaku tidak ada yang ditutupi, semuanya diutarakan. Alhamdulillah, Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia, beberapa orang dari teman suami saya yang menjadi investornya percaya dan mengiklaskannya, dan mereka Alhamdulillah terus menaruh kepercayaan kepada suami saya. Alhamdulillah ya Allah.

Itu hebatnya kekuatan komunikasi. Tanpa komunikasi persepsi yang tidak enak pasti bermunculan. Tepiskan itu semua dengan kita berkomunikasi dengan cara yang baik. Dan sikap keterbukaan dan kejujuran kita saat berkomunikasi juga diutamakan. Ingat yah, jujur dan terbuka. Dua hal yang sangat utama bin penting. Percaya tidak percaya, rusaknya hubungan seseorang itu ditandai lemahnya kita berkomunikasi, betul kan?

Semakin sadar dan percaya manfaat komunikasi untuk kemaslahatan hubungan jangka pendek bahkan jangka panjang, bahkan Rasulullah pun mengajurkan umatnya untuk memperpanjang tali silaturahhim. Bukankah silaturahhim salah satu bentuk berkomunikasi?

Pernah suatu kali, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap oleh kita sebagai pasangan hidup. Dan ketika dikomunikasikan dengan baik, Alhamdulillah semua berjalan dengan baik bahkan hubungan kita semakin erat.

Tantangan komunikasi dengan pasangan adalah ‘ingin dimengerti’. Seorang suami ingin dimengerti oleh istrinya bahwa dia sudah memberikan yang terbaik untuk keluarga, sudah satu hari penuh bekerja dengan banting tulang dan peras keringat. Seorang istri pun juga ingin dimengerti oleh suaminya, bahwa dia sudah bekerja 12 jam bahkan 24 jam membenahi urusan rumah dan mengurus, mendidik anak. Iya, kedua pihak sama-sama ingin dimengerti.

Wajar saja, pertengkaran tak terelakkan kalau kita memiliki persepsi ingin dimengerti tanpa mau mengerti pasangan hidup kita. Makanya sering kali, saya pun sebagai seorang istri tak segan-segan membantu pekerjaan suami, dan begitu sebaliknya.

Jika kita merubah cara pandang kita tentang hal ini. Mengerti terlebih dahulu baru setelah itu dimengerti. Insya Allah, hubungan impian kita sebagai keluarga muslim yang menginginkan sakinah, mawaddah dan warrohmah tetap terjalin dan terjaga.

Tantangan kedua bagi pasangan modern saat ini adalah teknologi yang diiringi pesatnya perkembangan gadget atau smartphone. Coba Anda lihat, berapa banyak pasangan keluarga yang mereka lebih sering berkomunikasi dengan gadgetnya dibandingkan berkomunikasi dan saling cerita atau curhat dengan pasangan hidupnya?

Alhamdulillah, kami memiliki momen khusus untuk mengabadikan momen-momen cerita dan saling curhat ini pada saat anak kami telah lelap tertidur. Kira-kira setelah jam 8 malam atau jam 10. Atau saat kami terpisah jarak kota dan waktu pun. Saya menyempatkan menceritakan semua hal kepada suami saya, begitu juga sebaliknya. Peraturannya cuma satu, non aktifkan gadget dan smartphone!

Dengan menyempakan momen cerita dan saling curhat ini, membuat hubungan kami semakin baik dan romantis. Alhamdulillah. Dan tidak ada yang tidak mungkin. Ketika kita mau, insya Allah ada jalan. Dan percayalah, komunikasi dengan pasangan adalah sebuah keniscayaan.

Selamat membangun komunikasi dengan pasangan hidup Anda. Dan jadilah keluarga yang kuat dan menguatkan!

Salam Kebahagiaan

Inna Nurhidayah, Puncak,30 September2015

Silakan Bagikan Artikel IniShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageShare on LinkedInPin on Pinterest