Pages Navigation Menu

Kontribusi untuk Indonesia

Kontribusi untuk Indonesia

Pernahkah Anda mendengar beberapa kalimat dibawah ini?

  1. Saya dapat berkontribusi jika saya memiliki posisi.
  2. Tidak peduli dengan kontribusi, yang saya pedulikan hanyalah posisi saya dalam sebuah kelompok.
  3. Tidak peduli dimanapun posisi saya, yang saya pedulikan hanyalah bagaimana saya bisa berkontribusi.

Jika Anda menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan, dan berwenang untuk menentukan tim agar roda perusahaan berjalan dengan baik. Kira-kira dari ketiga orang yang memberikan pernyataan diatas. Orang manakah yang Anda pilih?

Saya bisa menebaknya. Saya meyakini Anda cenderung memilih orang nomor tiga kan?

Lalu, dimanakah kita berada? Apakah di posisi 1, 2 atau 3? Silahkan Anda jawab dalam hati Anda saja.

Hidup adalah pilihan. Takdir adalah jalan hidup yang anda pilih, karena Allah membebaskan manusia untuk memilih jalan hidupnya sejak awal. Berkelana dengan pilihan-pilihan, sudah sewajarnya juga Anda mengetahui esensial dan resiko dari setiap pilihan yang diputuskan.

Kontribusi dapat diartikan, partisipasi aktif seseorang dengan landasan dasar kecintaan akan tujuan bersama. Sementara posisi struktural hanyalah penyokong atau alat untuk mencapai tujuan bersama. Meski terlihat saling berkaitan, namun sesungguhnya kedua hal ini tidak lah memiliki keterikatan yang erat. Kontribusi dapat dilakukan dimanapun posisi kita berada, sesuai dengan kebutuhan organisasi meskipun secara psikologis beban seseorang yang memiliki posisi akan lebih besar untuk berkontribusi dibandingkan yang tidak. Tapi tentu Anda dapat melihat, banyak sejarah yang membuktikan, kontribusi tidaklah mengenal posisi.

Kisah heroik para pejuang-pejuan Islam pun membuktikannya. Ingatkah dengan kisah Usamah bin Zaid, yang diamanahkan oleh Rasulullah untuk memimpin sebuah pasukan? Dan tahukah Anda, siapa yang menjadi prajurit-prajuritnya? Khalid bin Walid, Abu Bakar Ash-Shidiq, dan Umar bin Khattab! Panglima-panglima terbaik yang dimiliki umat muslim dipimpin oleh seorang anak budak Rasulullah…

Tetapi bukan ketidaksetujuan yang diperlihatkan sahabat-sahabat ini, bukan pula pemberontakan, mereka taat dan istiqomah menjalankan tugasnya sebagai prajurit dari seorang panglima bernama Usamah bin Zaid, hingga akhirnya Allah memberikan hadiah berupa kemenangan. Bagaimana mungkin kita mengabaikan sejarah agung yang ditorehkan para generasi awal?

Sungguh salah, apabila seseorang mengatakan dapat berkontribusi jika memiliki posisi. Posisi tidak menentukan kontribusi seseorang yang benar-benar ikhlas menapaki langkah-langkah perjuangannya dengan landasan cinta terhadap tujuan bersama, bukan fanatisme organisasi semata.

Mungkin ada beberapa orang, yang memiliki fanatisme berlebihan terhadap lembaga dimana mereka berada. Cinta diperlukan untuk menumbuhkan semangat dalam berjuang dan bergerak, namun perlu disadari kembali, cita-cita yang seharusnya lebih menyita perhatian adalah mengenai mimpi organisasinya.

Dan betapa tidak bertanggungjawabnya, mereka yang telah memiliki posisi, hanya menjadikannya sebagai alat kekuasaan atau ajang menunjukkan prestise berlebihan tanpa memahami fungsi substansial yang diembannya.

Betapa banyak mereka yang melalaikan amanah, betapa banyak mereka yang bangga dengan kursi yang mereka duduki saat ini, namun tidak memberikan kontribusi berarti.

Betapa melimpahnya orang-orang ‘berkuasa’ yang tidak mampu ‘memimpin’.

Ya, betapa tidak sedikitnya bukan?

Pun artikel ini tidak berniat untuk menyudutkan, menyalahkan apalagi menghardik. Ya saya pun terus berintropeksi dan terus berbenah untuk menjadi pribadi yang penuh dengan kontribusi apapun posisi saya sekarang.

Marilah kita bersama-sama merenda kembali mimpi, merajut cita-cita, dan membuat rencana, tanpa memperhitungkan sisi kemanusiaan kita untuk terus menunda. Marilah kita terus menelurkan karya, agar Negara, dunia, dan agama bangga memiliki Anda. Hingga diujung hidup kita, ada banyak orang yang mengatakan kepada kita bahwa ada seseorang yang layak untuk dikenang. Karena kita ber kontribusi untuk Indonesia.